keterangan
Featured Post Today
print this page
Latest Post

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Interaksi Antar Wilayah

 Berikut ini merupakan 3 faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi antar wilayah 

 a. Wilayah Yang Saling Melengkapi (Regional Complementary)

Interaksi terjadi oleh adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (regional complementary).Komplementaritas terjadi pada wilayah-wilayah yang memiliki perbedaan maupun keterbatasan  sumber daya, antara wilayah yang surplus sumber daya dan wilayah yang minus sumber daya. Dalam arti lain, terdapat kebutuhan timbal balik antar wilayah akibat adanya perbedaan potensi yang dimiliki oleh setiap wilayah. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhannya, masing-masing wilayah melakukan interaksi dengan wilayah lain. 

Contoh : Jakarta memiliki keterbatasan hasil pertanian seperti sayur-sayuran, akan tetapi Jakarta memiliki komoditi berupa alat-alat elektronik. Sedangkan Yogyakarta memiliki surplus hasil pertanian, namun komoditi alat-alat elektronik masih sedikit. Sehingga, keduaa wilayah, baik Jakarta maupun Yogyakarta melakukan interaksi untuk memenuhi kebutuhan wilayah masing-masing.

b.  Intervening Opportunity 

Adanya faktor yang menghambat interaksi antar wilayah, sehingga harus diisi wilayah lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Contoh : Indonesia akan mengimport beras dari Myanmar. Akan tetapi, Myanmar terkena banjir bandang, sehingga produksi beras menurun dan tidak mencukupi untuk mengadakan kegiatan eksport. Sehingga, Indonesia beralih untuk mengimport beras dari Thailand.

c. Adanya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang (spatial transfer ability) 

Kemudahan pemindahan dalam ruang baik berupa manusia, gagasan maupun informasi. Hal ini dipengaruhi oleh : 

a.       Jarak mutlak dan jarak relatif antar wilayah 

b.      Biaya angkutan atau transportasi antar wilayah. 

c.       Kemudahan atau kelancaran angkutan 

Kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang baik manusia, informasi, ataupun barang yang tergantung dengan faktor jarak, biaya transportasi dan kelancaran prasarana transportasi. Jadi, semakin murah transferbilitas, maka akan semakin besar arus komoditas.  

Contoh : petani sayur di Sleman akan cenderung mendistribusikan hasil pertaniannya ke daerah-daerah seperti di kota Yogyakarta, Magelang, dan sekitarnya. Sebab, jarak antar wilayah cukup dekat, transportasi mendukung, biaya angkutan pun tidak tinggi, topografi wilayah relatif datar. Sehingga, memiliki kemudahan dalam distribusi hasil produksi ke daerah-daerah tersebut daripada ke Dieng dengan topografi yang berbukit-bukit. 

 

Prinsip Geografi

 Hallo gaes, setelah pada postingan sebelumnya kita sudah membahas mengenai Pendekatan Geografi

pada kesempatan kali ini kita akan membahas Prinsip geografi.

Jika dalam pendekatan geografi kita melihat suatu penyebab dari fenomena, maka dalam Pendekatan geografi ini kita melihat apa yang di kaji dari sebuah fenomena tersebut, apakah penyebabnya, dampaknya, proses terjadinya, atau yang lainnya.


 

oke langsung saja kita bahas Prinsip geografi satu persatu.

1. Prinsip Deskripsi

Prinsip deskripsi berarti mendeskripsikan sebuah fenomena, bisa menggunakan kalimat, data, gambar atau yang lainnya. Dalam prinsip deskripsi tidak dibahas mengenai persebaran dan penyebab terjadinya suatu fenomena. hanya menjelaskan sebuah fenomena saja.

Contoh: Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam terutama barang tambang, seperti emas, minyak bumi, batu bara, tembaga, nikel, dan lain-lain

Dalam contoh diatas kalimat tersebut hanya menjelaskan bahwa ternyata indonesia memiliki sumberdaya alam yang berlimpah. hanya itu saja tanpa mejelaskan kenapa dan dimana.

2. Prinsip Distribusi

Prinsip distribusi berarti menjelaskan persebarannya atau lokasi. Dalam distribusi lokasi yang disebutkan pasti lebih dari satu tempat, atau ada lokasi-lokasi spesifik yang disebutkan.

Contoh: Contoh: Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam terutama barang tambang, seperti emas dan tembaga di Papua, minyak bumi di Sumatera, batu bara di Kalimantan, lain-lain

kalimat contoh diatas hampir mirip dengan contoh pertama tadi, namun dalam kalimat contoh yang kedua langsung menyebutkan barang tambang beserta lokasi-lokasinya. Jadi ada lokasi spesifik yang dijelaskan

3. Prinsip Interelasi 

Prinsip Interelasi menjelaskan mengenai hubungan sebab akibat, baik hubungan timbal balik atau satu arah. Jadi berfokus kepada penyebab dari suatu fenomena.

Contoh: Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam terutama barang tambang, hal ini di karenakan indonesia terletak diantara pertemuan 3 lempeng tektonik, dan dua jalur pegunungan dunia.

4. Prinsip Korologi

Prinsip korologi adalah penggabungan dari beberapa prinsip. Jadi jika ada suatu kalimat dimana didalamnya ada lebih dari satu prinsip, maka kalimat tersebut menggunakan prinsip korologi.

Contoh: Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam terutama barang tambang, seperti emas, minyak bumi, batu bara, tembaga, nikel, dan lain-lain, hal ini di karenakan indonesia terletak diantara pertemuan 3 lempeng tektonik, dan dua jalur pegunungan dunia.

pada contoh diatas dijelaskan mengenai indonesia yang kaya akan berbagai barang tambang (deskripsi), kemudian dilanjutkan penjelasan pengenai penyebabnya.  


Oke segini saja pembahasan pada kali ini, silahkan kunjungi post/artikel lain pada blog ini untuk menambah pengetahuan geografi kalian.

DOWNLOAD KUMPULAN MODUL LATIHAN SOAL CPNS

 Kumpulan Modul Latihan CPNS


 

Berikut adalah Kumpulan Modul Soal CPNS  Lengkap

1. Modul CPNS 2018-2019

2. Modul CPNS 2019-2020 

3. Modul CPNS 2019-2020 

 4. Modul CPNS 1

5. Modul CPNS 2

6. Ebook PPPK 2021

Pendekatan Geografi dan Cara Membedakannya

Pendekatan geografi dapat diartikan sebagai suatu metode, cara pandang, atau analisis untuk memahami berbagai gejala dan fenomena geosfer, khususnya interaksi antara manusia terhadap lingkungannya.

 


Terdapat tiga pendekatan yang digunakan dalam kajian ilmu geografi yaitu:

1.pendekatan spasial
2.pendekatan ekologis
3.pendekatan kompleks wilayah.
 

Biasanya banyak siswa yang kesulitan dalam membedakan pendekatan geografi ini dalam sebuah soal, dikarenakan penjelasan di beberapa buku kurang spesifik dan masih menimbulkan kebingungan. Untuk itu mari kita sederhanakan dan kita bedakan ketiganya.

Secara mudahnya kita dapat menentukan pendekatan geografi yang di gunakan dalam sebuah soal dengan melihat penyebab dari fenomena yang ada di dalam soal.Sebuah fenomena yang terjadi di bumi pasti ada penyebabnya. nah pendekatan ini melihat dari sisi itu.

1. Pendekatan spasial/keruangan

Pendekatan ini biasanya digunakan untuk mengaji sebuah fenomena yang diakibatkan oleh satu faktor/penyebab. Hubungan sebab akibat dalam pendekatan keruangan biasanya bersifat linear, dengan kata lain Fenomena alam disebabkan oleh alam, atau fenomena manusia disebebkan oleh manusia.

contoh:

a. Banjir di jakarta terjadi akibat curah hujan yang tinggi.

-banjir merupakan fenomena alam, curah hujan merupakan fenomena alam (alam karena alam)

b. Kepadatan penduduk di jakarta akibat laju urbanisasi ke jakarta yang tinggi

- kepadatan penduduk fenomena manusia, urbanisasi juga manusia (manusia karena manusia)


2. Pendekatan Ekologis/Kelingkungan

Pendekatan kelingkungan biasanya digunakan untuk mengkaji suatu fenomena dimana penyebab dari fenomena itu hanya satu, namun ada timbal balik antara alam dan manusia. Bisa dikatakan ini merupakan fenomena alam akibat manusia.

 contoh:

a. Banjir di Jakarta terjadi akibat perilaku masyarakat yang membuang sampah di sungai.

- banjir merupakan fenomena alam, membuang sampah disungai adalah perilaku manusia (alam karena manusia)

b. Tanah longsor yang terjadi di kabupaten Purworejo terjadi akibat alih fungsi lahan dari hutan menjadi area pertanian/perkebuanan.

- tanah longsor merupakan fenomena alam, sedangkan alih fungsi lahan dilakukan oleh manusia (alam karena manusia)


3. Pendekatan Kopleks Wilayah

merupakan pendekatan yang biasanya digunakan untuk mengkaji fenomena yang memiliki banyak faktor penyebab. Baik karena alam semua, karena manusia semua, maupun karena alam dan manusia.

contoh:

 a. Banjir di Jakarta terjadi akibat curah hujan yang tinggi, perilaku masyarakat yang membuang sampah di sungai, dan sedikitnya daerah resapan air.

b. Tanah longsor di Kabupaten Purworejo terjadi akibat curah hujan yang tinggi, topografi yang miring atau curam dan alih fungsi lahan.

 

Nah itulah bagaimana cara membedakan pendekatan dalam sebuah soal. Jika kita menemukan soal tentang pendekatan dalam ujian apapun, maka carilah penyebab dari sebuah fenomena yang ada di soal. Jika di soal sudah disebutkan penyebabnya kita tinggal menentukan pendekatan yang tepat, namun jika belum, maka kita harus menganalisa penyebab dari fenomena tersebut sendiri.

Pengertian Geografi Menurut Para Ahli



Istilah Geografi berasal dari bahasa Yunani: Geo berarti Bumi dan Graphien berarti tulisan/gambar. Secara harfiah berarti Geografi adalah tulisan atau gambaran tentang bumi.
Secara harfiah geografi berarti ilmu yang mencitrakan atau menggambarkan tentang bumi. Perkataan ini pertama kali diperkenalkan oleh Eratosthenes dengan nama geographica yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar ilmu geografi.

Geografi mengalami perkembangan pesat menjelang akhir abad ke-18. Pada era ini, tokoh yang muncul adalah geograf terkenal dari USA, yaitu Ellsworth Huntington. Beliau merupakan salah satu tokoh aliran fisis determinis. Perkembangan ilmu geografi semakin pesat dengan munculnya Paul Vidal de la Blache. Beliau adalah tokoh geograf Perancis yang menganut paham posibilis.

Setelah beberapa abad kemudian muncullah konsep Geografi yang dikemukakan para ahli berikut ini.

 


Geografi Menurut Para Ahli

1. Karl Ritter 

Geografi merupakan suatu telaah Bumi sebagai tempat hidup manusia. Hal-hal yang menjadi objek studi geografi adalah semua fenomena di permukaan Bumi, baik organik maupun anorganik yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

 

 

 

 

 2. Bintarto


Geografi adalah ilmu pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat Bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak yang khas tentang kehidupan dari unsur-unsur Bumi.

 

 

 

 

 

 

3. Seminar Ikatan Geografi Indonesia (IGI) di Semarang Tahun 1988


Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan gejala geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan

 

 

 

4. Immanuel Kant (1724–1821)
Selain sebagai seorang geograf, Kant juga seorang filsuf. Kant tertarik pada Geografi karena menurutnya ilmu itu dekat dengan filsafat. Semua gagasan Kant tentang hakikat Geografi dapat ditemukan dalam buku Physische Geographie yang ditulisnya. Menurutnya, Geografi adalah ilmu yang objek studinya adalah benda-benda, hal-hal atau gejala gejala yang tersebar dalam wilayah di permukaan Bumi. 


5. Alexander von Humboldt (1769–1859)

Pada mulanya Humboldt adalah seorang ahli botani. Ia tertarik Geografi ketika ia mulai mempelajari tentang batuan. Ia diakui sebagai peletak dasar Geografi fisik modern. Ia menyatakan Geografi identik atau serupa dengan Geografi fisik. Ia menjelaskan bagaimana kaitan Bumi dengan Matahari dan perilaku Bumi dalam ruang angkasa, gejala cuaca dan iklim di dunia, tipe-tipe permukaan Bumi dan proses terjadinya, serta hal-hal yang berkaitan dengan hidrosfer dan biosfer. 


6. Friederich Ratzel (1844–1904)

Ratzel adalah guru besar Geografi di Leipzig. Ia mengemukakan konsep Geografi dalam bukunya yang berjudul Politische Geographie. Konsep itu diberi nama Lebensraum yang artinya wilayah Geografis sebagai sarana bagi organisme untuk berkembang. Ia melihat suatu Negara cenderung meluaskan Lebensraum-nya sesuai kekuatan yang ia miliki. 


7. Elsworth Huntington (1876–1947)
Huntington adalah geograf asal Amerika Serikat. Melalui bukunya yang berjudul The Pulse of The Earth, ia memaparkan bahwa kelangsungan hidup dan peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh iklim. Atas dasar teorinya itu, Huntington kemudian terkenal sebagai determinis iklim (memandang iklim sebagai penentu kehidupan). Ia mengatakan, Geografi sebagai studi tentang fenomena permukaan Bumi beserta penduduk yang menghuninya. Ia menjelaskan adanya hubungan timbal balik antara gejala dan sifat-sifat permukaan Bumi dengan penduduknya. 


8. Paul Vidal de la Blache (1845–1918)
Vidal adalah geograf asal Prancis. Ia adalah pelopor posibilisme dalam Geografi. Posibilisme (teori kemungkinan) muncul setelah Vidal melakukan penelitian untuk membuktikan interaksi yang sangat erat antara manusia dan lingkungan pada masyarakat agraris pramodern. Ia menegaskan bahwa lingkungan menawarkan sejumlah kemungkinan (posibilities) kepada manusia untuk hidup dan berkembang. Atas dasar itu, Vidal mengemukakan konsepnya yang disebut genre de vie atau mode of live (cara hidup). Dalam konsep ini, Geografi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana proses produksi dilakukan manusia terhadap kemungkinan yang ditawarkan oleh alam. 


9. Halford Mackinder (1861–1947)

Mackinder adalah pengajar di Universitas Oxford. Pendapatnya tentang Geografi sangat terkenal lewat makalahnya yang berjudul The Scopeand Methods of Geography yang berisi konsep man-land relation (hubungan manusia dengan lahan) dalam Geografi. Ia menyatakan bahwa Geografi adalah ilmu yang fungsi utamanya menyelidiki interaksi manusia dalam masyarakat dengan lingkungan yang berbeda menurut lokasinya. 


10. Daldjoeni
Nama Daldjoeni dikenal karena buku-bukunya yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan Geografi. Menurutnya, Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia mencakup tiga hal pokok, yaitu spasial (ruang), ekologi, dan region (wilayah). Dalam hal spasial, Geografi mempelajari persebaran gejala baik yang alami maupun manusiawi di muka Bumi. Kemudian dalam hal ekologi, Geografi mempelajari bagaimana manusia harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Adapun dalam hal region, Geografi mempelajari wilayah sebagai tempat tinggal manusia berdasarkan kesatuan fisiografisnya.

Persebaran Fauna di Indonesia

Indonesia merupakan pertemuan dua wilayah biogeografi utama, yaitu Oriental dan Australia. Pemisahan fauna di Indonesia diperkenalkan oleh Alfred Russle Wallace (1845-1913) seorang naturalis Inggris. Garis Wallace memisahkan paparan sunda yang terdiri atas pulau Pulau Jawa , Bali, Kalimantan, dan Sumatera dengan wilayah peralihan yang terdiri atas Nusa Tenggara, dan Pulau Sulawesi. Garis Weber memisahkan wilayah peralihan dengan paparan sahul yang terdiri atas Kepulauan Maluku dan Papua.

Persebaran fauna di Indonesia

Pola persebaran fauna di Indonesia sangat dipengaruhi oleh persebaran tumbuhan, kondisi geografis Indonesia yang berada di antara Benua Asia dan Australia, serta kondisi geologis Indonesia yang berada pada dua landas kontinen (continental shelf) yaitu landas kontinen Asia di bagian barat dan landas kontinen Australia di Indonesia bagian timur.






Gambar 3.1 Peta Persebaran Fauna di Indoneisa



a. Tipe Indonesia Barat, tipe hewan ini memiliki kesamaan dengan hewan di daratan-asia. Hal ini disebabkan pada zaman glasial kawasan Indonesia barat, seperti Pulau jawa, Kalimantan dan sumatera pernah bersatu dengan daratan asia. Faunanya terdiri atas gajah, harimau, badak, tapir, rusa, beruang madu, orangutan, burung merak, siamang, owa jawa, dan macan tutul.

b. Tipe Indonesia Tengah, tipe hewan di wilayah peralihan berbeda dengan Tipe Indonesia Barat maupun Timur. Hewan disini merupakan wilayah peralihan antara tipe oriental ke tipe austrialis, sehingga memiliki khas tersendiri. Hewan Tipe Peralihan miskin akan spesies namun banyak memiliki spesies yang tidak terdapat di wilayah lain sehingga memiliki tingkat endemisitas yang tinggi. Persebarannya meliputi wilayah Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Hwean tipe peralihan antara lain anoa, kuda, dige, tangkasi, babi rusa, komodo, dan burung maleo.

 

Gambar 3.2 Anoa

c. Tipe Indonesia Timur, Tipe Indonesia Timur disebut juga Tipe Australia meliputi papua dan pulau-pulau di sekitarnya. Hewan Indonesia timur antara lain burung cendrawasih, kasuari, kangguru, walabi, kuskus, dan koala.

Selain fauna khas, di Indonesia juga terdapat jenis burung akibat migrasi. Indonesia menerima migrasi burung dari dua daerah sekaligus, dari utara dan dari selatan. Migrasi dari utara dilakukan melalui jalur palerartik atau asia timur. Sebaliknya burung yang bermigrasi dari selatan menggunakan jalur Australo-Papuan pada saat musim dingin selatan.











Jenis-Jenis Batuan

 A. Batuan Beku


Merupakan batuan yang terbentuk akibat proses pembekuan magma. pembekuan magma bisa terjadi di dalam dapur magma, saat perjalanan magma keluar, maupun saat magma sudah sampai di permukaan bumi. Berdasarkan tempat pembekuannya, batuan beku dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Batuan Beku Dalam : membeku di dalam dapur magma, lambat, kristal besar.

2. Batuan Beku Gang : membeku dalam perjalanan keluar, kristal besar dan kecil (campur)

3. Batuan Beku Luar : membeku di permukaan bumi, cepat, kristal kecil bahkan tidak mengkristal 


B. Batuan Sedimen 

Batuan yang terbentuk akibat proses sedimentasi (pengendapan) 

Klasifikasi Batuan Sedimen:


1. Berdasarkan Tempatnya

    a. B.S Aluvial/Fluvial :di sungai -> Konglomerat, Breksi 

    b. B.S Terestris : di darat -> tuff 

    c. B.S Marine : di laut -> kapur 

    d. B.S Glasial : di daerah es -> morena 

    e. B.S Limnis : di rawa atau danau -> gambut 


2.Berdasarkan prosesnya

- B.S klastik : batuan asal menglami penghancuran klastik (pelapukan fisik), kemudian mengendap

- B.S kimiawi : batuan sedimen yang terbentuk karena proses kimiawi

- B.S organik : batuan sedimen yang berasal dari makhluk hidup yaitu sisa” binatang seperti kerang dan karang.


C. Batuan Metamorf

Batuan yang terbentuk akibat proses metamorfosis (perubahan wujud)

- Batuan Metamorf Kontak (Thermal) : terbentuk akibat “suhu” yang tinggi dari dalam bumi. Ex: kapur menjadi marmer, granit menjadi intan

- Batuan Metamorf Dinamo (Dinamik) : terbantuk akibat “tekanan” oleh lapisan di atasnya. Ex : Tanah liat menjadi batu sabak (batu tulis)

- Batuan Metamorf pneumatolotik : terbentuk akibat “suhu dan penambahan unsur zat”. Ex: Kuarsa + unsur bolivium -> turmalin, kuarsa + unsur fluvium -> topaz


SISTEM PERTANIAN DI INDONESIA

 Ada beberapa sistem pertanian yang terdapat di Indonesia, yaitu:

1. Sistem Ladang, ladang berpindah atau shifting cultivation

2. Pertanian Pekarangan

 3. Sistem Sawah

4. Pertanian lahan kering atau tegalan

5. Penataan Pertanian (cropping system)

6. Budidaya lain sebagai usaha keluarga seperti: Peternakan, perikanan, perkebynan, dan kehutanan.

 
 
 
1. Sistem Ladang
Berladang memakan banyak lahan. Pada tingkat tertentu harus dikendalikan, karena bila tidak memperhatikan dan menjaga kelestarian kesuburan tanah akan merupakan ancaman bagi kesejahteraan bangsa dan negara dan merusak lingkungan


 

 


2. Pertanian Pekaragan

Tanah pekarangan walaupuntidak luas amat besar artinya, karena dapat merupakan gudang persediaan untuk kebutuhan sehari-hari bagi keluarga yang mengusahakan.

Tanah pekarangan dapat merupakan tambahan sumber makanan, obat-obatan dan sumber keuangan. 

Masalahnya : belum semua rumah tangga terutama di perdesaan memanfatkan pekarangan secara optimal.

 

3. Pertanian Sistem Sawah

Tanah sawah dapat dibedakan menjadi :

1.Sawah irigasi
2.Sawah tadah hujan
3.Sawah pasang surut
4.Sawah bonorowo (sawah rawa).
5.Sawah lebak ( di kiri-kanan sungai)

Keberhasilan tanah sawah tergantung pada pengaturan irigasi.

Irigasi merupakan syarat mutlak untuk peningkatan produksi padi 

 

Masalah utama sistem sawah:

1.Irigasi – pengairan

2. Sistem penataan tanaman (cropping system). Tanah sawah yang terus menerus ditanami padi akan mendatangkan kesulitan yaitu merosotnya kesuburan tanah, pengotoran tanah, merajalelanya hama penyakit.

 

4. Pertanian Lahan Kering

Pola  pertanaman pada pertanian tegalan beraneka ragam, hal ini disebabkan:

1.Banyaknya jenis tanaman yang dapat diusahakan di atas tanah kering
2.Perbedaan musim hujan dan kemarau
3.Sifat tanah yang berbeda-beda

Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam pertanian tegalan adalah penataan tanaman, supaya tidak terjadi kemunduran kesuburan tanah,berkembangnya hama penyaskit, terjadinya tanah kosong dll.

 

5. Penataan Pertanian

Cropping system:

Cara pengaturan dan pemilihan jenis tanaman yang diusahakan pada sebidang tanah tertentu pada jangka waktu tertentu.

1.Multiple cropping monokultur
2.Multiple cropping campuran

Manfaat penataan pertanaman:

1. Meningkatkan curahan tenaga kerja keluarga.

2. Memperkecil resiko kegagalan.

3. Mempertinggi lumbung pangan

4. Menjaga kesuburan tanah

5. Mencegah hama dll

 

Kecerdasan Arsitektur Rumah di Indonesia



Sebagai sebuah Negara yang terdiri dari berbagai suku dan kebudayaan, Indonesia memiliki keragaman yang luar biasa. Salah satunya adalah banyaknya rumah adat di Indonesia. Setiap Provinsi memiliki rumah adat khas masing-masing. Namun dibalik desain rumah adat, ternyata orang indonesia telah memikirkan berbagai hal dalam membangun sebuah rumah. Berikut ini adalah kecerdasan orang orang indonesiabangun rumah adat.


     1.  Memiliki atap yang menjulang  tinggi
Sebagai negara yang terletak di jalur pertemuan lempeng, membuat Indonesia ditumbuhi ratusan gunung, dan tak sedikit dari gunung-gunung tersebut yang aktif dan dapat erupsi kapan saja. Melihat hal tersebut, orang jaman dahulu telah sadar mengenai bahaya dari gunung berapi, salah satunya dengan membuat desain rumah yang memiliki atap yang menjulang tinggi. Desain ini bukan tanpa tujuan mereka sadar akan alam di sekitar mereka. Dengan atap yang menjulang tinggi, akan memudahkan material erupsi gunung berupa pasir atau abu untuk meluncur ke tanah sehingga tidak menumpuk di atap rumah. Hal ini penting mengingat jika abu atau pasir tersebut menumpuk di atap rumah maka akan sangat sulit membersihkannya, harus menunggu hujan terlebih dahulu, dan jika hujan pun tidak serta merta hilang dengan seketika. Kemungkinan abu ataupasir justru akan menghambat laju air dan malah masuk ke dalam rumah. Dengan atap yang menjulang tinggi maka akan mengurangi tumpukan material erupsi di atap.
Selain itu atap yang tinggi akan menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar tidak sumpek dan panas mengingat negara kita merupakan negara tropis dengan intensitas penyinaran matahari yang tinggi.






2. Rumah Panggung

Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis basah. Dengan demikian maka curah hujan di Indonesia tinggi dan hutan tumbuh dengan lebat. Seperti diketahui bahwa hutan merupakan tempat tinggal berbagai macam hewan buas yang dapat mengancam kehidupan manusia. Maka dari itu orang jaman dahulu membuat rumah panggung untuk menghindari dari serangan binatang buas saat malam hari. Selain itu, rumah panggung juga aman dari banjir.

  





3. Atap Seng
Jika kalian berkunjung ke dataran tinggi di wonosobo dan sekitarnya, maka kalian akan menemukan bahwa sebagian besar atap rumah menggunakan bahan seng. Hal ini bukan tanpa tujuan, seperti yang kita ketahui bahwa daerah dataran tinggi memiliki suhu yang rendah dan hawa yang dingin baik siang maupun malam hari. Untuk mensiasati hal tersebut maka dibangunlah rumah beratapkan seng agar di dalam rumah dapat menjadi hangat pada saat siang hari.




 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Katalog Geografi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger